Man was never destroyed by the world, only by what he thought he could control.
Dunia tidak pernah benar-benar menghunus pedang ke dada manusia. Ia hanya berdiri sebagaimana ia selalu berdiri: luas, tua, dingin, dan tak peduli. Menumbuhkan bunga di atas makam. Menurunkan hujan di hari pernikahan. Mengirimkan matahari kepada orang saleh dan pendosa dengan keadilan yang sama mengerikannya. Dunia tidak membenci manusia. Dunia bahkan tidak cukup mengenal manusia untuk membencinya.
Yang menghancurkan manusia bukanlah dunia. Melainkan keyakinannya yang congkak bahwa dunia seharusnya patuh.
Manusia lahir kecil dan menangis. Namun perlahan ia belajar memberi nama pada segala sesuatu. Menamai laut, bintang, cinta, kematian. Dan setelah memberi nama, ia mengira telah memiliki. Setelah mengukur, ia mengira telah menguasai. Ia menggambar peta, lalu marah ketika bumi bergerak tidak sesuai garisnya. Ia membuat rencana, lalu merasa dikhianati ketika waktu menertawakannya.
Lihatlah seorang raja yang kehilangan tahtanya. Bukan mahkota yang membunuhnya — yang membunuhnya adalah pikiran bahwa mahkota itu adalah dirinya. Lihatlah seorang kekasih yang ditinggalkan. Bukan cinta yang menghancurkannya — yang menghancurkannya adalah keyakinan bahwa hati orang lain bisa dikurung seperti burung dalam sangkar emas.
Dunia tidak menghancurkan mereka. Harapan merekalah yang berubah menjadi algojo.
Dan kamu — kamu juga tidak berbeda.
Kamu menyusun hidupmu seperti barisan domino yang rapi, meyakini bahwa jika kamu cukup cermat meletakkan setiap keping, tidak ada yang akan jatuh kecuali yang kamu inginkan untuk jatuh. Kamu memberi nama pada segalanya. Mengukur jaraknya. Meyakini bahwa antara kamu dan kekacauan ada jarak — dan jarak itu bisa dijaga.
Lalu sesuatu masuk. Bukan dengan kekerasan. Tanpa peringatan, tanpa pamit, hanya tiba-tiba ada di sana, di dalam ruang yang sudah kamu susun dengan sangat hati-hati.
Dan kamu tidak menerimanya. Maka kamu mengulurkan tangan. Menggenggam lebih erat. Bertindak — karena bertindak terasa seperti kendali, dan kendali terasa seperti tidak jatuh.
Di sini tragedi itu dimulai.
Bukan pada saat sesuatu masuk. Tapi pada saat kamu memutuskan bahwa kamu bisa mengeluarkannya.
Satu langkah. Masuk akal. Satu keputusan lagi. Juga masuk akal. Kamu tidak sedang nekad — kamu sedang berpikir, sedang berusaha, sedang melakukan apa yang dilakukan manusia ketika ia percaya bahwa nasibnya ada di tangannya sendiri. Tapi setiap langkah membawamu lebih jauh dari pantai. Dan kamu baru menyadari seberapa jauh kamu sudah berenang ketika sudah tidak bisa lagi melihat daratan.
Dan versi paling kejam dari semua ini bukan ketika kamu mencoba mengontrol dan gagal sepenuhnya.
Melainkan ketika kamu mencoba dan berhasil sebagian.
Karena saat itulah kamu punya bukti. Bukti bahwa kontrol itu mungkin. Bahwa jika kamu sedikit lebih cerdas, sedikit lebih cepat, sedikit lebih berani — semuanya akan berhasil. Maka kamu mencoba lagi. Meraih lebih jauh. Mempererat genggaman pada sesuatu yang tidak bisa digenggam. Dan setiap kali sesuatu terlepas dari tanganmu, kamu tidak menyimpulkan bahwa genggaman itu yang bermasalah.
Kamu menyimpulkan bahwa genggamanmu belum cukup kuat.
Yang paling memukul bukan kegagalannya.
Yang paling memukul adalah ingatan tentang betapa yakinnya kamu. Betapa jernih segalanya terasa pada saat itu. Betapa setiap keputusan terasa seperti langkah yang tepat — bahkan langkah yang membawamu paling jauh ke dalam kehancuran sekalipun, pada saat itu terasa seperti satu-satunya pilihan yang masuk akal.
Kamu tidak sedang ceroboh. Kamu sedang menggenggam.
Dan kamu menggenggam sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk digenggam.
Dunia di luar tetap luas. Tetap tua. Tetap tak peduli.
Ia tidak menaruhmu di sini. Ia hanya terus menjadi apa yang selalu ia jadikan — tidak tertarik pada arsitektur satu rencana manusia pun.
Kamu yang menaruh dirimu di sini. Dengan keyakinanmu. Dengan rencanamu. Dengan kepastian absolutmu bahwa ini — hal ini, situasi ini, kepingan hidup ini — bisa ditahan di tempatnya jika kamu hanya menekan cukup keras.
Ia tidak mengikuti.
Ia tidak pernah mengikuti.
Dan kamu baru tahu itu setelah tanganmu sudah kosong.