Terima Kasih
Ada dua kata yang seumur hidup kuucapkan berdampingan, begitu rapat dan begitu sering, sampai aku lupa keduanya pernah berdiri sendiri-sendiri. Terima. Kasih.
Kalau kupisahkan, terima berarti menyambut, mendapat, menerima sesuatu yang datang dari luar diriku. Sederhana. Tapi kasih bukan sekadar perasaan. Kasih adalah sayang yang memilih menjelma tindakan; kepedulian yang bersedia menanggung, memberi, bahkan mengorbankan sesuatu demi kebaikan orang lain. Maka bila kurangkai kembali, terima kasih semestinya berarti sesuatu yang jauh lebih dalam daripada yang biasa kumaksudkan: aku menerima kasihmu. Bukan menerima bantuanmu. Bukan menerima kebaikanmu. Tetapi kasihmu — hal yang ternyata jauh lebih langka daripada keduanya.
Dan di sinilah, bertahun-tahun, aku selalu tersandung. Karena aku memang sering menerima bantuan. Aku sering menerima kebaikan. Tapi kalau aku jujur pada diriku sendiri, sebagian besar dari bantuan itu datang bukan dari kasih. Ia datang dari tuntutan — dari rasa tanggung jawab yang harus ditunaikan, dari moral yang menuntut seseorang bersikap baik, dari keinginan untuk terlihat baik di mata orang lain, atau dari perhitungan diam-diam tentang apa yang bisa dibalas kelak. Aku tidak menutup mata atas bantuan-bantuan itu; aku tahu ia nyata, dan aku tahu ia menolongku. Tapi setiap kali aku hendak berkata terima kasih, ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku. Sebab bagaimana aku bisa berkata aku menerima kasihmu, kalau yang sebenarnya kuterima bukanlah kasih?
Maka aku mengucapkannya, tetap. Setiap hari. Kepada kasir, kepada rekan kerja, kepada orang asing yang menahan pintu untukku. Terima kasih, terima kasih, terima kasih — sampai kata itu kehilangan bobotnya. Sampai ia menjadi refleks, bunyi yang keluar begitu saja tanpa kusadari lagi maknanya. Kata itu perlahan menjadi seperti koin yang terlalu lama berpindah dari tangan ke tangan: ukirannya aus, wajahnya kabur, nilainya tinggal angka yang tercetak tapi tak lagi terasa. Aku mengucapkannya tanpa tahu perasaan apa yang seharusnya menyertainya. Aku bahkan lupa bahwa dulu kata itu mungkin punya perasaan.
Sampai suatu hari kamu memberikan sesuatu kepadaku.
Aku tidak akan menceritakan apa yang kamu korbankan untuk itu — bukan karena tak penting, tapi justru karena terlalu penting untuk kubentangkan sebagai angka. Cukup kukatakan bahwa aku mengenal hidupmu, mungkin lebih daripada mereka yang seharusnya paling mengenalmu. Dan karena itu, aku tahu persis apa arti pemberian ini. Aku tahu apa yang kamu lepaskan agar aku bisa menerimanya.
Waktu kamu menyerahkannya, aku terdiam. Wajahku datar — begitu datar sampai matamu mulai berkaca, mengira aku tidak suka, mengira aku kecewa. Tapi kamu keliru membaca diamku. Aku bukan tidak suka. Aku hanya sedang tenggelam. Ada terlalu banyak yang bergerak di dalam dadaku pada detik itu, dan tak satu pun bisa kutemukan bentuknya di wajah, apalagi di kata-kata.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar menerima kasih. Bukan bantuan. Bukan kebaikan. Kasih — yang murni, yang tulus, yang tidak menuntut apa pun untuk kembali. Sesuatu yang lebih bening daripada susu, lebih jernih daripada madu, sebab tak ada setetes pun perhitungan yang mengeruhkannya.
Dan aku, yang seumur hidup fasih mengucapkan terima kasih, tiba-tiba tak sanggup mengucapkannya. Bukan karena kata itu terlalu kecil untuk sopan santun sehari-hari — melainkan karena, untuk pertama kalinya, kata itu terlalu besar. Terlalu penuh. Seolah kalau kupaksakan keluar, ia justru akan mengecilkan sesuatu yang tak semestinya dikecilkan.
Ternyata selama ini bukan kata itu yang kosong. Akulah yang belum pernah benar-benar mengisinya.
Aku sudah ribuan kali mengucapkan terima kasih, dan baru sekali benar-benar memaksudkannya. Dan justru di saat aku paling ingin mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, aku menemukan bahwa tak ada kata yang cukup. Bahkan seandainya kususun seribu kata, kurangkai dengan sabar satu per satu, mereka tetap akan berhenti di ambang — tak mampu menjangkau apa yang mengendap di dasar dadaku.
Jadi mungkin pertanyaannya bukan seberapa sering kita mengucapkan terima kasih.
Tapi: kapan pertama kali kamu benar-benar mengucapkannya — dan menerima kasih yang sesungguhnya di baliknya?